Cerita Hot Sepasang Wanita Bercinta Dengan Colok Timun Ke Liangnya

Cerita Hot Sepasang Wanita Bercinta Dengan Colok Timun Ke Liangnya
Cerita Hot Sepasang Wanita Bercinta Dengan Colok Timun Ke Liangnya

Cerita Hot Sepasang Wanita Bercinta Dengan Colok Timun Ke Liangnya – “Yah, kita terlambat deh, Wi.” keluh Wanda.”Sudah lewat lima menit nih”, Dewi langsung lunglai.
Kuliah pertama hari ini dosennya killer banget, namanya Pak Otong. Ia benar-benar takut sama Pak Otong. Namanya saja sudah Otong, bagaimana senjatanya.

Cerita Hot Sepasang Wanita Bercinta Dengan Colok Timun Ke Liangnya – Finally, mereka harus bolos kuliah. Itu lebih baik, daripada mereka harus dihukum menyalin tugas statistik tujuh kali.
“Ya udah deh, aku mandi dulu. Kau juga Din, nanti masuk angin” kata Dewi sambil segera masuk ke kamarnya dengan lemas.

Cerita Hot Sepasang Wanita Bercinta Dengan Colok Timun Ke Liangnya

Cerita Hot Sepasang Wanita Bercinta Dengan Colok Timun Ke Liangnya
Cerita Hot Sepasang Wanita Bercinta Dengan Colok Timun Ke Liangnya

Wanda benar-benar merasa bersalah. Seharusnya ia tak terlalu lama memilih-milih bra tadi, tapi Wanda memang paling senang pilih-pilih underwear. Bisa dikategorikan bahwa Wanda seorang kolektor underwear. Akibatnya mereka harus mengejar waktu menembus hujan yang cukup deras, tapi nyatanya tetap harus terlambat. Untuk menebus kesalahannya itu Wanda memasakkan mie goreng untuk Dewi. Dewi gemar banget sama mie goreng, dan itu merupakan senjatanya untuk meminta maaf kepada Dewi.

Wanda tak peduli kedinginan. Tanpa harus mandi dulu, ia sudah menggorengkan mie untuk Dewi. Lalu Wanda segera membawa mie goreng “made in” dirinya ke kamar Dewi. Dewi kaget ketika Wanda tiba-tiba masuk ke kamarnya begitu saja. Pasalnya Dewi belum selesai memakai bajunya. Ia masih bertelanjang dada. Untung bagian paling sensitifnya sudah ‘diamankan’ sebelum Wanda masuk tadi.

Wanda juga tak kalah kagetnya. Ia sampai terbengong-bengong memandangi pemandangan indah yang terhampar di depan matanya. Kedua bukit kembar Dewi membusung di depannya. Sekal membulat sedikit berlebihan untuk tubuhnya yang agak kurus. Kedua bola mata Wanda yang bening nanar memandangi kedua daging kecil coklat kemerah-merahan yang bertengger di kedua ujung bukit kembar itu. Darah Wanda bagai disiram air hujan, dingin menggigil. Ia terbayang beberapa adegan blue film yang pernah ditontonnya.

Hujan semakin deras di luar. Petir mengelegar memekakkan telinga. Wanda tersentak mendengarnya.
“Ah, maaf Wi. Aku tak sengaja. Ini mie goreng untukmu. Makanlah selagi hangat,” kata Wanda sedikit gugup.
Diletakkannya sepiring mie goreng itu di meja rias. Wanda segera berbalik hendak pergi tapi urung karena Dewi memanggilnya.

“Din, aku masuk angin. Kamu mau kerokin kan aku?” pinta Dewi.
Mulanya Wanda ingin menolak. Dia takut birahinya muncul dan salah tempat karena Dewi dan Wanda sejenis. Tapi melihat wajah memelas Dewi, perasaan bersalah Wanda kembali muncul. Bagaimanapun juga Wanda yang menyebabkan Dewi jadi masuk angin. Akhirnya Wandapun bersedia menuruti permintaan Dewi.

“Sebentar aku ambilkan balsemnya,” ujar Wanda segera keluar kamar Dewi.
Tapi ternyata Dewi menyusul Wanda. Dewi berfikir di kamar Wanda juga tidak apa-apa, sama saja. Maka dengan hanya mengenakan CD-nya Dewi masuk ke kamar Wanda. Tentu saja Dewi tidak perlu khawatir karena mereka hanya berdua di rumah itu saat ini.

“Disini saja, Din.” kata Dewi membuat Wanda terkejut tak menyangka Dewi akan menyusul ke kamarnya.
Dewi menelungkupkan badannya diatas ranjang. Kemudian Wanda duduk di tepi ranjang untuk mulai mengerokin kulit punggung Dewi. Tapi niat itu urung dengan tiba-tiba. Jemari Wanda menyentuh kulit punggung Dewi sekilas. Kulit punggung Dewi halus sekali.

Punggung Dewi yang agak kecoklat-coklatan nampak belang di bagian yang biasa tertutup tali bra. Tanpa sadar Wanda menyentuhkan jari telunjuknya menyusuri bagian punggung Dewi yang belang itu. Dari punggung atas teruuss menyamping. Dewi yang merasa kegelian membalikkan badan. Pada saat itulah tanpa sengaja jari telunjuk Wanda menyentuh payudara kiri Dewi.

“Kenapa, Din?” tanya Dewi sedikit mengatupkan mata menahan rasa merinding di tubuhnya.
“Kulitmu halus sekali.”ujar Wanda dengan nafas tersendat.
Mata Wanda kembali tertuju pada bukit kembar yang terpampang di depannya.
“Milikmu besar sekali.” lanjut Wanda.
“Kamu sudah pernah ML (make love) ya?”
“Siapa bilang? Ini keturunan.”, jawab Dewi sambil sedikit mengangkat bukit kirinya ke atas, bagaikan menantang setiap tangan untuk memegangnya.

Birahi Wanda yang mulai terbakar dan imbas dari kehujanan tadi membuat Wanda menggigil. Kemudian dilepaskannya kaosnya yang sudah agak kering. Tersembulah dua bukit kembar Wanda yang masih terbalut kain bra. Dua bukit yang sebenarnya agak kecil itu terlihat lebih besar dari ukuran sebenarnya karena menegang menahan birahi Wanda yang mulai meluap. Entah mengapa Dewi menjadi senang ketika Wanda melepas kaosnya.

“Milikmu juga besar Din.” kata Dewi.
Wanda memandangi kedua bukit yang masih tertutup kain itu
“Coba aku buka ya” pinta Dewi.

Dewi menempelkan tubuhnya ke tubuh Wanda untuk membuka pengait bra di punggung Wanda sehingga Wanda mudah untuk melepaskannya. Mata Dewi berbinar-binar memandangi dua bukit kembar ukuran 32 milik Wanda itu. Walau sedikit lebih kecil dari miliknya, tapi milik Wanda itu nampak lebih ranum. Tentu saja itu karena birahi Wanda yang mulai bergolak. Tiba-tiba Wanda melepaskan klok yang dipakainya. Sesekali gerakannya tersendat. Kini mereka berdua sama. Hanya memakai CD tanpa penutup lain.

“Wiu.. aku rasanya mau..” suara Wanda mendesah
“Mau apa?” tanya Dewi dengan tatapan menggoda.
“Aku tak bisa menahannya Wi..” suara Wanda makin mendesah.

Tahulah kini Dewi apa yang diinginkan Wanda. Ia segera menarik tuduh Wanda merebah. Kemudian dirabanya dada Wanda perlahan dan lembut. Diresapinya kehalusan kulit Wanda senti demi senti. Disentil-sentilnya puting payudara Wanda setiap kali jemari Dewi menyentuhnya. Dada Dewi bergemuruh, nafasnya naik turun. Sedang Wanda tersengal-sengal menikmati setiap sentuhan Dewi.

“Wi.. ooh.. dinginn..”
“Din.. kamu menggairahkan banget.. aku.. juga mau..”

Dewi mulai gelap mata. Kini ditindihnya tubuh Wanda. Bibir Dewi menyentuh bibir Wanda. Dilumatnya bibir bawah Wanda dengan rakus, dihisap dan digigit-gigit kecil. Dipermainkannya lidah Wanda dengan lidahnya hingga membuat Wanda berkerjap-kerjap. Bukit kembar mereka saling menghimpit. Keduanya nampak seperti kembar siam saja, saling menempel dan melumat. Wanda menggesek-gesekkan kemaluannya pada kemaluan Dewi berirama. Sedangkan kedua tangannya telah meremas-remas kedua bokong Dewi yang semok dan sekal. Nafas keduanya semakin memburu menikmati apa yang belum pernah sekalipun mereka rasakan.

“Ahgh.. Wi.. enak.. teruus aahh” rintih Wanda di sela-sela cumbuan Dewi.
Bibir Dewi turun menjilati leher Wanda yang jenjang dan memberikan gigitan-gigitan kecil sehingga nampak noda merah di beberapa tempat di leher Wanda. Gejolak birahi Wanda yang telah bergolak bagai tak bisa dibendung menyambar-nyambar bagai kilat di sore itu. Dibalikkannya tubuh Dewi sekuat tenaga.

Kini posisi mereka berbalik. Wanda yang berbadan lebih besar menghimpit tubuh Dewi. Tanpa banyak pikir diremasnya bukit kembar Dewi bergantian. Makin lama semakin keras. Dewi meringis menahan sakit. Lalu Wanda memasukkan puting merah kecoklat-coklatan itu ke dalam mulutnya. Di dalam mulutnya Wanda meniup dan menghisap daging kecil itu. Dijilatinya beberapa bagian yang bisa digapai oleh lidahnya. Kemudian digigit-gigitnya gemas daging yang sudah sangat keras itu.

“Achh..” teriak Dewi kesakitan.
Dewi membenamkan kepala Wanda ke dadanya yang semakin dibusungkan. Dewi benar-benar melayang. Manakala jemari Wanda mulai meraba-raba isi dibalik CD-nya. CD itu telah basah bermandikan lendir yang berasal dari lubang memek Dewi. Wanda meraba-rabanya. Tangannya kini telah menelusuri setiap lekuk bukit belah yang berumput basah itu. Disentilnya sesekali ketika cemarinya menyentuh daging kecil yang tersembul di antara belahannya.

“Ehh.. nikmat sekali Din.. teruss lakukan teruss.. ehh” Dewi mengerang kenikmatan.
Wanda tak banyak bicara. Ia hanya mendengus-dengus memburu sambil terus mengulum puting susu Dewi. Ditekannya memek Dewi dengan telapak tangannya. Tersembur cairan kental dari lubang memek Dewi yang kini menempel di tangannya. Wanda menghentikan kulumannya. Dilihatnya telapak tangannya yang basah oleh cairan dari lubang memek Dewi itu. Dijilatnya cairan itu. Tak berasa.

“Kenapa berhenti, Din?” kata Dewi kesal.
“Ikuti petunjukku Dewi,” pinta Wanda.
Wanda segera melepas CDnya. Kini ia dalam keadaan telanjang bulat. Tak selembar kainpun membalut tubuhnya. Dilemparkannya CD yang telah basah itu entah kemana. Kemudian dilepasnya pula CD milik Dewi. Dewi membantu dengan meregangkan selangkangannya. Kini mereka telah sama-sama polos seperti bayi.

Wanda kini berganti posisi tidur. Tubuhnya masih tetap menindih tubuh Dewi. Tapi mukanya kini sudah berada di atas selakang Dewi. Dan wajah Dewipun sudah berada di bawah selakang Wanda. Wanda memulainya dengan menciumi memek Dewi. Kemudian lidahnya mulai bermain-main di rerumputan yang telah basah itu.

Dewi bagai diperintah mengikuti semua yang dilakukan Wanda. Disapunya semua bagian memek Wanda yang ditumbuhi bulu-bulu yang agak jarang. Dijilat-jilatnya klitoris Wanda lalu dihisapnya agak kuat. Wanda mendesis-desis kegelian. Lalu dilakukannya hal serupa pada memek Dewi membuat Dewi bergelinjangan. Ditekan-tekannya kembali memek Dewi dengan telapak tanggannya. Suur.. cairan kental itu kembali keluar. Dijilatinya dinding memek Dewi sehingga membuat Dewi semakin terlena.

Tiba-tiba Wanda melihat lubang berwarna coklat kemerah- merahan yang agak terkatup. Dijilat-jilatnya lubang itu, Dewi bergelinjangan. Wanda terus menjilatinya sambil mengingat-ingat salah satu blue film yang pernah ditontonnya. Mungkin lubang inilah yang dimaksud. Lubang yang selalu disodok oleh penis kalau ingin mendapatkan kepuasan tertinggi. Mata Wanda berbinar-binar. Ia berguling ke samping, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Dewi. Cerita Hot ABG
“Aku akan membawamu terbang, Wiu..”

Dewi mengangguk pasrah. Yang terpenting baginya adalah menikmati permainan Wanda selanjutnya. Wanda meraih sebatang Timun dari rak sayur di bawah meja. Kemudian ditekuknya siku kaki Dewi dengan posisi agak mengangkang sehingga kepala Wanda mudah mencumbu kembali bagian terpeka Dewi itu. Dengan perlahan ditusukkannya ujung Timun itu ke dalam lubang kemaluan Dewi. Dewi merintih-rintih kesakitan. Vaginanya terasa panas dan nyeri. Tapi Wanda terus mendorongnya ke dalam.

“Aaahh..” Dewi menjerit badannya terduduk seketika.
Matanya liar memandangi benda apakah gerangan yang telah membuatnya merasa kesakitan. Darah segar menyembur, keperawanan Dewi telah amblas. Wanda menarik keluar batang Timun itu, tapi belum sampai keluar sepenuhnya, sudah dimasukkan kembali. Mata Wanda mengerjap-ngerjap. Sedang Dewi memandangi batang Timun yang keluar-masuk lubang keperawanannya dengan nafas menghentak-hentak. Ada rasa nikmat di antara rasa nyeri di lubang kewanitaannya.

CARI HOKI ANDA DISINI BANDAR SAKONG

Kemudian direbutnya batang Timun itu dari tangan Wanda. Dimasukkannya ujung Timun itu lebih dalam dengan tangganya sediri. Matanya terpejam menikmati kenikmatan yang luar biasa. Wanda yang merasa kelelahan tergeletak bersimbah keringat.

Hatinya bergemuruh mengenang yang barusan terjadi. Ada apa dengannya? Apakah dia sudah menjadi seorang lesbi? Ah, tidak! Ia masih normal! Hati Wanda berontak. Ia segera berlari keluar kamar sebelum Dewi kembali memburunya dengan batang Timun yang masih bersimbah darah keperawanan Dewi.

TAMAT

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*